Banyak kisah menarik dari orang “sukses”, setidaknya upaya untuk meningkatkan
harkat diri yang tiada henti serta luar biasa.
Seperti pertemuan saya dengan seseorang bapak yang bersahaja bernama mas “Puji”
disuatu acara dan sorenya saya sempatkan berkunjung kerumah sekaligus usaha
beliau ditemani sahabat saya yang membimbing jalan mas Puji ini ...
Berawal dari kehidupan yang serba kekurangan, makan saja dijatah agar semua
saudaranya kebagian sampai dengan susah payah bisa menyelesaikan SMEA dilakukan
semuanya dengan keprihatinan yang tinggi dan seperti banyaknya lulusan kejuruan
saat itu mencari pekerjaan bukanlah suatu hal yang gampang.
Puji muda mulai ngenger dirumah kakaknya, mengerjakan semua pekerjaan rumah
tangga sampai mencuci popok bayi anaknya sang kakak tetapi pekerjaan tetap hanya
diangan-angan sampai suatu ketika dia di “titip”kan dari pada nganggur terus
disuatu percetakan kecil.
Puji mengawali karier nya yang baru di percetakan dari bawah sekali, menyapu dan
membersihkan bekas pekerjaan sudah menjadi bagian sehari-hari yang tak
terpisahkan dan ini dilakoni selama 14 tahun ... hasilnya sebuah rumah type 21
itupun menyicil, Puji tinggal dirumah tersebut dengan keluarganya ... kemiskinan
masih erat menyertai, sampai saat istrinya hamilpun dia tidak malu meminta
pakaian hamil dari istri majikannya.
Suatu saat ada tawaran pekerjaan membesarkan anak ayam potong yang berjangka
waktu pendek, 35 hari .. Puji berpikir ini mungkin suatu cara merubah nasib,
modal tabungan yang hanya Rp. 1,25 juta dipertaruhkan untuk menyewa kandang ayam
yang tidak terpakai dan ternyata pertaruhan ini memang mendapatkan hasil yang
memuaskan, dia menerima sekitar Rp. 12 juta ... kaget dan gemetar saat menerima
uang tersebut, mulailah dia berpikir untuk menyewa kandang tersebut selama satu
tahun sambil membesarkan anak ayam potong sebagai sambilan selain pekerjaannya
di percetakan.
Setahun kemudian angin segar kelihatannya mulai mengalir, modal meningkat
menjadi Rp. 50 juta tetapi rupanya kesuksesan ini membawa angin iri ke pemilik
kandang sehingga kontrak tidak bisa diperpanjang lagi, singkatnya Puji
memberanikan diri membuat kandang ayam sendiri dengan menyewa tanah dengan
taruhan modal yang ada ditangan, disinilah mulainya angin balik .. seakan
keberuntungan mulai berpaling lagi, ada aturan main yang baru dari kandang yang
harus dibuat yang menyebabkan Puji tidak mendapatkan kontrak lagi dari
perusahaan ayam potong dan mencoba berdikari, kerugian meningkat dari bulan ke
bulan yang mengakibatkan tutupnya usaha pembesaran ayam potongnya.
Putus asa ??, oh itu tidak ada di kamus mas Puji yang satu ini, kebetulan saat
itu ada panganan Donat yang lagi top, dia beralih menjajakan donat ini selama 3
bulan, namanya makanan pasti orang bosan kalau tiap hari tetapi disaat itulah
dia mengenal sahabat saya yang menjadi langganan donat nya sampai suatu saat
setelah bisnis donat mulai redup, mas Puji berbicara dengan sahabat saya itu
sambil menanyakan apa bisa dicarikan jalan keluar.
Sahabat saya ini memang agak nyentrik, dia tanya apa yang menjadi modal Puji
selain pengalaman 14 tahun di percetakan ... yah Puji hanya menjawab Cuma punya
rumah tipe 21, itupun masih ada tanggungan 5juta lagi dan kalau dijual paling
laku Rp. 30juta ... lha sudah jual saja rumah itu dan kita bikin bisnis
percetakan ... lho ini ide gila darimana ... mau tinggal dimana, gimana
meyakinkan sang istri kalau rumah yang merupakan istana kecil mereka harus
dijadikan modal ...
Nekat merupakan jalan pintas .. ilmu kepepet dipakai dan dijuallah sang istana
kesayangan yang masih nyicil untuk modal melangkah lebih maju, itu kejadian
ditahun 2004.
Saat saya berkunjung kerumah sekaligus percetakan beliau 10 hari lalu saya tidak
melihat lagi sisa kegetiran masa lalu, hanya canda tawa dan sebuah mobil
terparkir dihalaman rumahnya dan usahanya sudah berkembang menjadi 6 unit lagi
.. malah lagi mau invest mesin baru lagi.
Perjuangan memang berat, setelah melewatinya maka rasa manis akan terasa ... “
Sekarang saya bisa membelikan makanan apa saja yang dimaui anak saya” demikian
mas Puji sambil tersenyum saat kami pamit.
Mas Puji ... saya salut dengan anda dan juga pada sahabat saya tercinta yang
menjadi tenaga pendorongnya ...
Wassalam,
Harmanto
www.topmdi.net
sumber millis TDA surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar