Senin, 23 November 2009

101 Ide Bisnis dari Rumah (Tanpa Kantor)

by roniyuzirman

buku 101 ide bisnis dari rumah tanpa kantorBuku ini sudah cukup lama tergeletak di rak buku saya. Diberikan saat pertemuan TDA Tangerang, oleh penulis dan juga mompreneur yang sangat produktif dan kreatif, Sulistyawati N.

Perhatian saya tertahan kepada buku ini saat mencari ide untuk menulis blog yang sudah lama belum diupdate (karena lagi keranjingan Posterous, hehe). Kebetulan, kemarin saya membuka statistik blog ini dan menemukan bahwa banyak pembaca yang mencari informasi mengenai ide bisnis rumahan seperti ini. Ide bisnis yang cocok buat ibu-ibu atau bapak-bapak sekali pun yang ingin berbisnis di rumah tanpa meninggalkan buah hati mereka.

101 Ide Bisnis tanpa Kantor, Mencari Peluang dari Sudut Ruang Anda adalah judul yang cukup eye catching, menarik perhatian siapa saja yang sedang mencari ide bisnis yang sederhana, murah dan aplikatif. Saya merasakan bahwa saat ini kecenderungan para ibu/bapak yang ingin berbisnis di rumah sangat tinggi saat ini.

Beberapa ide yang ditawarkan sebenarnya telah dipraktekkan oleh member-member TDA yang jumlahnya tercatat sudah mencapai 10.000 orang ini. Jadi, isi buku ini applicable dan bukan teori. Saya sendiri kenal dengan para pelakunya karena terjun langsung dan bergaul dengan mereka di lapangan.

Ini beberapa ide bisnis yang saya pilih dan layak dicoba:

1. Produksi, penjualan ritel atau grosir seprai dan bed cover. Silakan search di google kata-kata ini. Pasti banyak ditemukan. Artinya, it works. Setiap ibu pasti ingin kamar mereka tampil indah dan nyaman. Maka, kebutuhan untuk produk perlengkapan kamar akan selalu ada.

2. Produksi, penjualan ritel, dan distributor grosir busana muslim dan jilbab. Sebagian member TDA telah sukses melakukannya. Saya sebutkan saja beberapa nama di antaranya: Doris Nasution, Hikmanul Hakiem,Teguh Atmajaya, Poppy Garmila, Erina Kartika. Kalau anda klik link tersebut, anda akan menemukan bisnis mereka sudah tidak lagi berbasis di rumah. Ya, karena sudah berkembang, tentu perlu toko atau menyewar ruko dan sebagainya.

3. Produksi, penjualan kue dan sejenisnya. Kue-kue atau cemilan telah menjadi keseharian kita. Ketika kita melihatnya di toko, secara dengan mudah kita akan membelinya tanpa pikir panjang. Apalagi kalau itu ditawarkan oleh teman atau tetangga kita. Makanya, bisnis seperti ini bisa berjalan secara alamiah dengan pemasaran dari mulut ke mulut. Menjelang lebaran, adalah masa panen dan berpotensi meraup keuntungan berlimpah. Coklat Mentari, adalah salah satu contoh member TDA yang sukses melakukannya.

4. Web disainer dan pembuatan web. Bagi anda yang punya skill di bidang IT, peluang bisnis ini masih terbuka lebar. Saat ini permintaan akan jasa ini sedang meningkat tajam. Dengan beroperasi di rumah, tentunya anda akan bisa menawarkan harga yang lebih fleksibel dan bersaing dengan perusahaan besar. Sebagian besar member TDA adalah orang IT dan banyak yang menjalankan bisnis ini, di antaranya adalah: Ipul Anwar.

5. Toko online. Ya, ini bisnis yang juga lagi hot menurut saya. Saya sendiri adalah pelakunya sejak tahun 2003 dan masih eksis sampai sekarang. Saat itu pemainnya masih bisa dihitung dengan jari, namun sekarang sudah berjubel. Artinya, peluangnya masih terbuka lebar dan menurut saya masih akan terus berkembang. Saat ini baru the first wave, early wave, belum mencapai puncaknya. Apa saja bisa dijual melalui online. Beberapa contoh sukses yang cukup fenomenal adalah: Mohamad Rosihan, Irwanto dan Hikmanul Hakiem.

Rasanya cukup panjang daftarnya kalau saya uraikan satu per satu.

Silakan anda telurusi sendiri tawaran ide-ide seperti: penjualan aksesoris, MLM produk kecantikan, kerajinan aksesori, toko sembako, katering, kursus memasak dan membuat kue, disainer interior, toko mainan anak, jasa penitipan anak, kelompok bermain dan taman kanak-kanak, jasa penerjemah, jasa pelatihan, penerbitan, rental buku, rental komputer, penulis (termasuk menjadi blogger profesional), penjualan voucher/HP, kerajinan tangan, kerajinan sulam/payet, jahit menjahit, fotografi dan cetak digital, cuci motor/mobil, jasa antar jemput sekolah/kantor, penjualan benda promosi, dan sebagainya. Pokoknya banyak banget idenya. Tinggal anda pilih saja mana yang cocok dan dekat dengan minat dan passion anda.

Mengenai how-to-nya, silakan saja baca buku praktis ini. Yang penting, setelah membaca dipraktekkan. Jangan terlalu banyak mikir dan menunda atau orang lain akan melakukannya. “Life is what happening while you are busy making plan”, kata John Lennon.

Kemarin saya membaca buku semi biografinya Venna Melinda. Ada kata-kata menarik yang saya temukan: “Mencoba, adalah jurus sakti untuk maju!”

Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,

Roni, www.manetvision.com, www.roniyuzirman.com, www.twitter.com/roniyuzirman

source : http://roniyuzirman.wordpress.com/2009/09/24/101-ide-bisnis-dari-rumah-tanpa-kantor/#comment-4132

Rabu, 21 Oktober 2009

Ternyata Hanya 10 Persen yang Layak Disebut Waralaba

Jumat, 9 Oktober 2009 | 19:47 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Idha Saraswati W Sejati

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kesadaran pemilik usaha untuk menaikkan status usahanya dari peluang usaha menjadi waralaba masih rendah. Meski belum bisa disebut sebagai waralaba, sekitar 90 persen pemilik peluang usaha yang sudah berani beroperasi layaknya sebuah waralaba sehingga berpotensi merugikan investor .

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, peluang usaha (business opportunity) terus bermunculan. Saat ini, jumlah peluang usaha yang beroperasi di Indonesia mencapai 850 unit. Dari jumlah itu, baru sekitar 10 persen yang layak disebut sebagai waralaba (franchise). ...

"Untuk bisa disebut sebagai waralaba, usaha itu harus berhasil lebih dulu, 80 persen produknya cepat laku, memiliki keunikan, dan ada prototipe usahanya. Yang bisa seperti itu baru sekitar 10 persen. Kalau mau bertahan, waralaba itu tidak bisa muncul secara instan," tuturnya, Jumat (9/10) saat ditemui dalam Franchise and Business Concept Expo 2009 di Yogyakarta.

Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap waralaba sangat minim. Pemilik peluang usaha kurang mendapat pembinaan dan pelatihan sehingga tidak memahami pentingnya menjadi waralaba.

Selama ini, pemilik usaha biasanya terburu-buru untuk menjual ide usahanya karena tergiur dengan penghasilan yang akan didapat. Padahal usaha yang ia rintis belum benar-benar tertata baik dari sisi manajemen maupun pemasaran. Akibatnya, banyak investor yang rugi karena usahanya tidak bisa bertahan lama. Di DIY, hal itu terjadi pada peluang usaha di bidang makanan.

Anang menuturkan, pemilik peluang usaha bisa saja menjual ide usahanya. "Namun ia harus terbuka kepada calon investor sehingga mereka mengetahui risiko usahanya. Ia harus jujur bahwa usahanya itu belum bisa disebut waralaba. Jadi kalaupun dijual, dia tidak bisa memungut biaya franchise . Harga jualnya pun bisa ditawar oleh investor," jelasnya.

source : http://bisniskeuangan.kompas.com

Rabu, 18 Februari 2009

Just action and see what is the result - fantastic

yang BEPnya cuma 5 jam juga ada koq Pak, jualan nasi kuning(nasi
uduk) hehehehe...
ini pengalaman saya jaman kuliah dulu,
kebetulan kampus baru aja di pindahkan dari sekeloa ke jatinangor,
belum banyak orang jualan dan masih gersang.
saya yang tiap pagi berangkat kuliah sarapan dulu, sampai di kampus
ngeliat temen-temen pada "ngeces" karena nggak ada yang jual makanan.
dari situ langsung keidean untuk jual "sarapan"
gimana caranya? pertama saya hubungi tetangga yang memang jualan nasi
kuning yang menurut saya dan keluarga sangat enak karena nasinya
pulen dan tidak lengket, belum lagi sambel oncomnya.... maknyuuuusss.
saya bilang mau pesen nasi kuning 20 bungkus, dengan harga 400 rupiah
(sekitar tahun 1996 nasi kuning 400rp udah pake irisan telur, irisan
timun, kerupuk dan sambel oncom), terus saya kasih kemasan ke ibu
yang bikin nasi kuning itu, pake kemasan plastik, ditambah
sendok "bebek" plastik yang kualitas 1 (pinggirannya ndak tajem),
untuk kemasan dan sendok habis 65rp/pc.
Saya bilang besok pagi jam 6 saya ambil udah siap ya bu.
besok paginya saya berangkat kuliah, saya bawa tuh 20 bungkus nasi
kuning seharga 500rp(465rp) , saya titipkan di tukang parkir kampus
(sebelumnya saya sudah sounding sama dia mau titip dagangan)saya
bilang sama tukang parkir titip jualin dengan harga 1000 dari saya,
mamang jual bebas aja berapa. akhirnya dia jual harga 1500 sudah
termasuk teh botol (jaman dulu teh botol kalau nggak salah masih di
kisaran 200- 300 rp)
4 jam saya kuliah dan mau pulang saya tanya tukang parkir gimana
jualannya? Habis den. Alhamdulillah. ..
jadi dalam 5 jam jualan saya sudah BEP dongk. :D modal 500rp kali 20
= 10rb rp pulang-pulang bawa uang 20 rb rp. hehehehehhee. ...
kalau yang seperti itu udah termasuk bisnis belum ya Pak Hadi?
besoknya saya langsung tambah quantitinya jadi 40 pcs, Alhamdulillah
habis lagi.....seterusnya saya cuma bisa bawa 40 pcs itu, wong pake
motor dari bandung ke jatinangor(jarak kurang lebih 25 Km) mau
kuliah. selama beberapa bulan jalan terus dan Alhamdulilah pulang
kuliah habis terus. Dari situ saya sudah nggak pernah minta uang
bensin lagi sama ortu.
Tapi ceritanya berakhir setelah saya mulai jarang kuliah karena sudah
mulai skripsi. si mamang tukang parkir akhirnya coba menduplikasi
nasi kuning saya, dan dari ceritanya hanya laris beberapa hari,
selanjutnya sering sisa, sehingga akhirnya dia nggak jualan nasi
kuning lagi, mungkin rasanya nggak seenak nasi kuning yang saya jual.
kasian juga sih. tapi saya udah jarang ke kampus jadinya kalau
dipaksakan berat diongkos.
jadi buat rekan-rekan yang belum action, segeralah action. seperti
yang Pak Hadi katakan, mulailah dari yang kecil. jangan kita bermuluk-
muluk, tetapi lakukan sesuai kemampuan dulu. lambat laun perbesarlah.
mengenai nasi kuning ini pun saya masih berkeyakinan, bahwa ini
merupakan peluang usaha yang kalau ditekuni bukanlah sesuatu yang
remeh temeh, justru yang remeh temeh ini yang jarang dilirik orang
dan biaya untuk memulainya tidak terlalu besar tetapi memberikan
income yang cukup besar.
ada cerita lainnya yang sangat religius, soal jual nasi kuning di
kampus ini, semuanya berhubungan dengan rasa malu alias gengsi, dan
saya langsung di "peringatkan" oleh Allah. ceritanya saya sharing di
postingan berikutnya.

Someone

Rabu, 21 Januari 2009

HIDUP SEDERHANA SANGAT MENGUNTUNGKAN

“In character, in manner, in style, in all things, the supreme exellence is simplicity. – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah.”
~Henry Wadsworth Longfellow~

Hidup sederhana sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern dimana kita tak pernah dapat lepas dari banyak sekali pilihan dan jalan sekaligus kesulitan. Berusaha hidup sesederhana mungkin akan sangat membantu kita menemukan banyak keuntungan dan hidup lebih baik meskipun kita harus dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi global seperti saat ini.


Selain itu, hidup sederhana akan membuat kita lebih menikmati apa yang ada saat ini, karena tidak terlalu khawatir akan masa depan atau opini negatif orang lain. Sebagaimana Sir Chinmoy mengatakan, ”Simplicity is our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri.” Kesadaran tersebut akan membantu kita lebih fokus pada potensi diri sendiri dan semangat untuk lebih giat berusaha, tak hanya berangan-angan atau meratapi kegagalan masa lalu. Dengan demikian, kita dapat meraih harapan lebih cepat dan lebih banyak dari yang diinginkan.

Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran dan tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh pemikiran-pemikiran negatif. Dengan kata lain, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran.

Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin dapat menumbuhkan kreatifitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang dapat Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki? Pertanyaan tersebut akan mendorong Anda untuk memutar otak guna memecahkan suatu masalah dengan memanfaatkan apa yang sudah Anda miliki, daripada mencoba untuk ’membeli’ solusi yang berarti pengeluaran uang lagi.

Keuntungan lain dari hidup sederhana lainnya adalah tidak menimbulkan kecemburuan sosial, kesibukan yang berkurang, sehingga lebih banyak waktu untuk istirahat, mengembangkan diri, berbagi dengan orang lain dan lain sebagainya. Keuntungan yang terpenting adalah kita menjadi lebih bahagia dengan apapun yang kita miliki. Sementara keuntungan selalu ada dari hidup sederhana adalah biaya hidup menjadi lebih ekonomis.

Harus dipahami bahwa hidup sederhana bukan kehidupan kaum miskin. Sebab banyak milyuner kelas dunia hidup sangat hemat dan sederhana atau jauh dari kemewahan. Kita coba perhatikan Warren Buffet yang disebut majalah Forbes edisi bulan Agustus 2008 sebagai pria terkaya di dunia dengan total kekayaan senilai 62 milyar USD. Keseharian hidup pria yang mendapat gelar Sage of Omaha atau Oracle of Omaha karena kehebatan pikirannya tersebut sangat dekat dengan prinsip hidup hemat dan mungkin dapat kita jadikan pedoman.

Ketika diwawancara televisi CNBC beberapa waktu yang lalu, Warren Buffet menyatakan bahwa ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3 di kota Ohama. Rumah itu sudah ia tempati bersama keluarga sejak menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi ia mengatakan, “Saya memiliki segalanya di rumah ini.”

Dengan harta yang sedemikian banyak dan sumber pendapatan yang sangat besar, Warren Buffet masih sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran uang. “Watch your expenses,” katanya. Ia hanya akan membeli barang jika benar-benar diperlukan, itupun dengan harga semurah mungkin. Ia menyarankan agar membudayakan sikap seperti itu tak hanya pada diri sendiri, melainkan kepada semua anggota keluarga.

Ia menjelaskan bahwa pengeluaran sekecil apapun akan membebani kondisi keuangan. Untuk itu ia menyarankan agar menjadi ’smart buyer’ atau pembeli yang cerdas yang hanya membeli barang atau jasa yang diperlukan bukan yang diinginkan. Sebab keinginan manusia tak pernah ada habisnya bahkan sering menyebabkan kebangkrutan.

Pada saat yang sama ia juga menyatakan, “Always think how you can accomplish things economically. – Berusahalah untuk mendapatkan segala sesuatu dengan harga paling ekonomis atau murah.” Hal itu tercermin dari keseharian Warren Buffet yang tak pernah membeli mobil baru, tidak mempunyai sopir ataupun pengawal pribadi. Kemana-mana iapun memilih menumpang pesawat kelas bisnis daripada menaiki jet pribadi, meskipun ia memiliki perusahaan pembuatan pesawat jet terbesar di dunia.

Sikap Warren Buffet yang berani menjadi diri sendiri patut kita teladani. Ia berprinsip bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang dapat mengendalikan kehidupan dan masa depannya sendiri. Itulah mengapa ia tidak pernah membeli barang-barang bermerek atau melakukan kebiasaan mewah lainnya, melainkan membeli barang-barang yang membuatnya merasa nyaman.

Meskipun hartanya melimpah ruah, tetapi ia tidak suka pamer. “Don’t try to show off, just be yourself and do what you enjoy doing. – Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan menikmati apa yang Anda lakukan,” tegasnya. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dengan sikap semu, misalnya ingin selalu menunjukkan kesan mampu atau mengedepankan gengsi walaupun harus menguras isi kantong. Sikap hidup sederhana dan apa adanya itu akan jauh lebih baik dan menguntungkan, daripada berusaha mengejar gaya hidup di luar jangkauan kemampuan keuangan.

Warren Buffet mewanti-wanti agar tidak berhutang. “Avoid bank loans and invest in yourself. – Hindari membayar bunga bank (meminjam uang) dan berinvestasilah untuk diri sendiri,” pesannya. Bukan berarti ia anti berurusan dengan bank atau pinjaman, asalkan pinjaman tersebut benar-benar dimanfaatkan sebagai modal usaha meningkatkan kualitas ekonomi dan bukan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.

Sikap hemat dan sederhana Warren Buffet bukan pertanda ia hanya senang menumpuk pundi-pundi uang atau ia enggan berbagi dengan orang yang kesulitan. Tahun 2006, ia mendonasikan 90% dari hartanya, berkisar diantara 30,7 milyar USD, untuk yayasan sosial Bill & Melinda Gates. Walaupun hartanya sudah didonasikan sedemikian banyak, gaya hidup hemat dan sederhana membuat hartanya terus bertambah bahkan sekarang jauh lebih besar (62 milyar USD).

Kehidupan Warren Buffet menginspirasikan betapa kesederhanaan itu menguntungkan. Kesederhanaan dan sikap hemat Warren Buffet tidak hanya membuat dirinya menikmati kesuksesan, tetapi juga lebih dicintai dan dihargai banyak orang dibandingkan mereka yang selalu hidup bergelimang kemewahan. Jika Anda ingin menjadi mengambil bagian keuntungan dari kesederhanaan itu, maka mulai saat ini jadikan pola hidup sehemat dan sesederhana mungkin sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian Anda.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best- seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

lama nih

dah lama gak aktif nih, sibuk dengan kerjaan, btw spirit to be entrepreneur is never ended. sementara baru buka stu usaha nih.. target 2009 harus punya usaha sendiri yang lahir dari ide sendiri... WISH ME LUCK